Mahasiswa adalah anak muda yang peduli dengan rakyat, karena mereka merupakan bagian dari rakyat. Kalau ada apa-apa, merekalah yang merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat terhadap pengendalian bangsa. Sekarang saja, mahasiswa minta uang kuliahnya untuk ditunda atau dicicil, karna orang tua mereka kurang mampu. Mereka resah. Banyak PHK. Mereka resah untuk mengungkapkan perasaan semacam itu.
Proses depolitisasi yang telah berjalan sekian lama dan memiliki pengaruh sangat mendalam dalam kultur dan lembaga politik di negri ini merupakan persoalan terpenting dalam upaya mengembangkan demokrasi. Mahasiswa, menurut saya seharusnya memfokuskan perhatian mereka pada masalah yang nyata dan tidak terobsesi pada mitos-mitos gerakan mahasiswa masa lalu yang hanya akan membuat mereka jauh dari realitas.
Mahasiswa akan tetap dikenang sebagai hati nurani zamanya, asalkan mereka tetap pada jalur tanpa kekerasan. Bagi gerakan mahasiswa tanpa kekerasan, pemisahan gerakan moral dan gerakan politik tidak lagi relevan, karena moral harus juga diperjuangkan secara politik, dan aksi politik harus dijalankan dengan prinsip moral.
Menantang dan menghambat perjuangan mereka merupakan masalah besar karena masa depan bangsa 99,5% ada di tangan mereka. Perjuangan mereka bagaikan air bah yang mengalir dan akan terus mengalir sampai kemuara atau sampai cita-cita perjuangannya tercapai.
Tuntutan Mahasiswa juga merupakan tuntutan Rakyat. Karena itu, tuntutan tersebut tidak bersifat praktis dan jauh pula dari bermaksud mengejar kepentingan pribadi. Karena itu pula, tidak tergolong politik praktis. Apabila ada elemen bangsa yang mempunyai visi dan melaksanakan kehendaknya itu, tanpa melihat kepentingan yang lain, itu yang akan membatu kemajuan Mahasiswa sekaligus bangsa dan negara kita.
Kampus justru perlu menjadi pangkalan yang mengalirkan gagasan-gagasan kritis, yang memantau kondisi masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan, yang memantau iplementasi kebijakan, sekaligus menjadi tempat mengadu bagi masyarakat yang tau atau mengalami sendiri pihak-pihak pembangunan yang merugikan kesejahtraan masyarakat.
Dikampus tidak boleh ada kekerasan. Bahkan simbol-simbol kekerasaan seperti pistol atau belati pun tak perlu ada. Kampus itu taman pendidikan. Cantrik di kampus tak terutama dilatih mengembangkan otot, melainkan mengembangkan nalar dan budi.
“ kalau kita mencoba menetapkan diri kita sebagai mahasiswa, kita akan bisa mengerti kenapa mahasiswa melakukan sesuatu. Orang akan bisa berempati dengan baik jika dia pernah menjalani hal yang sama.”
Dimana-mana tugas pokok Mahasiswa itu belajar kan....????
Belajar itu penting, karena mereka harus punya keahlian, yang bisa digunakan mereka untuk berkarya. Tetapi jangan lupa Mahasiswa juga membawa misi untuk kehidupan dan bangsanya.
Mungkin tak terlalu salah jika dikatakan bahwa kepeloporan mahasiswa indonesia dalam menuntun demokrasi sekarang telah mulai memasuki tahap munculnya gejala bandwagon effects. Biarpun dimetaforakan sebagai “beramai-ramai ikut rombongan”, gejala itu tak selamanya kekurangan kesejatian.
Mahasiswa hidup di tengah-tengah masyarakat. Itulah sebabnya mereka mengerti dan memahami betul apa yang dirasakan dan diinginkan rakyat.... jika ada yang mengatakan tidak boleh atau melarang aksi mahasiswa, mungkin ada yang senang dengan aksi mahasiswa.
“ Mahasiswa sudah sampai di ambang batas kesabaran melihat terlalu senjangnya apa yang didengar dan dilihat. Kami sebagai Mahasiswa sering sekali mendengar selogan-selogan bagus dari para petinggi di negri ini tentang pemerintahannya yang bersih dan berwibawa, kepedulian pada rakyat.
Namun, kenyataanya, bertentangan dengan apayang terjadi. Kami melihat mereka pamer kemewahan dari para petinggi ....
Ini bertentangan dengan harapan-harapan kami. Karna itu, harus dilakukan rekonstruksi mental supaya kemunafikan itu bisa dikikis”.
DAN JANGAN SEKALI-KALI MENGANGAP KAMI MAHASISWA TIDAK BERANI MAJU KE BARISAN DEPAN UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN.
WASPADALAH KAMI GENERASI BARU AKAN MENUMBANGKAN SEMUA KERISIS INI.
Rabu, 20 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar